×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

AMP PT Sugih Waras Jaya Disorot, Pemilik Bungkam Saat Dikonfirmasi Terkait Perizinan Mengenai Asap Hitam dan Dugaan BBM Subsidi

Kamis, 26 Februari 2026 | Februari 26, 2026 WIB | Last Updated 2026-02-26T07:55:21Z


Tuban,HarianMemo.com ||  – Aktivitas pabrik aspal Asphalt Mixing Plant (AMP) milik PT Sugih Waras Jaya (SWJ) di Desa Sugihwaras, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, kembali menuai sorotan tajam. Sejumlah warga mengeluhkan dampak lingkungan hingga kualitas proyek pengaspalan yang dikerjakan perusahaan tersebut. Ironisnya, saat dikonfirmasi awak media, pihak pemilik perusahaan memilih bungkam.



Biar Pemberitaan berimbang dan tidak sepihak Pewarta telah menyampaikan permohonan konfirmasi resmi melalui pesan WhatsApp kepada pihak perusahaan terkait sejumlah persoalan krusial. Namun hingga berita ini diturunkan, pesan yang telah terkirim dan bertanda centang dua itu tidak mendapat respons.


Sikap diam pemilik PT SWJ tersebut justru memantik tanda tanya publik.


“Kalau memang tidak bersalah, kenapa tidak dijawab? Publik hanya butuh penjelasan. Jangan diam seolah-olah tidak ada masalah,” ungkap salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.


Aktivitas pabrik AMP milik PT SWJ diduga menimbulkan pencemaran udara berupa asap hitam pekat dan bau menyengat. Selain itu, beredar dugaan penggunaan BBM bersubsidi untuk operasional alat berat, gangguan lalu lintas akibat keluar-masuk truk bermuatan aspal, serta kualitas proyek pengaspalan jalan yang disebut-sebut cepat rusak.


Pihak yang menjadi sorotan adalah PT Sugih Waras Jaya (SWJ) selaku pemilik dan operator AMP di Desa Sugihwaras, Kecamatan Jenu. Warga sekitar dan pengguna jalan menjadi pihak yang terdampak.


Pabrik AMP berlokasi di Desa Sugihwaras, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban. Proyek pengaspalan yang disorot berada di wilayah ring road Kabupaten Tuban.


Keluhan warga muncul seiring berjalannya aktivitas produksi AMP dan pasca rampungnya proyek pengaspalan jalan ring road yang diduga mengalami kerusakan tidak lama setelah selesai dikerjakan.


Warga menilai aktivitas produksi menimbulkan dampak lingkungan yang mengganggu kesehatan dan kenyamanan. Dugaan penggunaan BBM subsidi serta kualitas proyek jalan yang cepat rusak turut memperkuat kecurigaan adanya ketidaksesuaian dalam operasional dan pelaksanaan pekerjaan.


Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT SWJ belum memberikan klarifikasi resmi meski telah dihubungi melalui pesan WhatsApp oleh pewarta. Tidak adanya respons tersebut dinilai publik sebagai sikap tidak kooperatif terhadap keterbukaan informasi.


Warga berharap ada penjelasan transparan dari pihak perusahaan maupun pengawasan dari instansi terkait agar persoalan ini tidak berlarut-larut.


“Jangan sampai masyarakat terus yang dirugikan. Kalau memang semua izin lengkap dan tidak ada pelanggaran, sampaikan saja secara terbuka,” tegas warga tersebut.


Media ini masih membuka ruang hak jawab dan klarifikasi dari pihak PT SWJ guna keberimbangan pemberitaan sesuai dengan kode etik jurnalistik.(Min)